Pesan Yang Tersimpan di dalam Mitos masyarakat Jawa

Pesan Yang Tersimpan di dalam Mitos masyarakat Jawa

Mitos Masyarakat Jawa

Berbicara tentang Jawa memang tidak ada habis-habisnya. Dari persoalan budaya baik berupa karya seni, sastra, tradisi, atau legenda hingga persoalan pamali dan mitos.

Secara harfiah, pamali memiliki kesamaan arti dengan pantangan atau ketabuan. Dan Mitos memiliki makna harfiah sebagai kepercayaan, keyakinan, mite, atau dongeng. Dengan demikian Mitos Jawa dapat dimaknai sebagai kepercayaan atau keyakinan masyarakat Jawa yang sulit dibuktikan secara riil dan rasional. Terdapat pula definisi yang menyatakan bahwa Mitos Jawa adalah cerita prosa masyarakat Jawa yang mengisahkan cerita berlatar belakang masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh pemilik cerita dan penganutnya. Pengertian lebih luas, Mitos Jawa mengacu pada cerita tradisional Jawa.

Di sisi lain, hadirnya mitos sebagai bagian dari kebudayaan akan menjadi sebuah pengendali di lingkungan masyarakat. Terutama agar masyarakat selalu menjaga dan melindungi lingkungan sekitarnya. Alangkah lebih indahnya apabila generasi muda atau generasi milenial juga tidak melupakan mitologi milik bangsa. Hal ini menjadi penting karena mitologi Indonesia merupakan bagian kekayaan bangsa yang melekat dalam kehidupan masyarakat, yang harusnya dilestarikan sebagai bagian budaya.

Pantangan atau pamali adalah hal-hal yang sering kita dengar dari orang tua, nenek atau kakek kita, dan orang-orang yang lebih tua daripada kita. Hal-hal tersebut ternyata sudah menjadi tradisi atau kepercayaan sendiri di beberapa daerah. Pantangan-pantangan ini berisikan larangan yang diajarkan dari masa lalu, di mana jika ada seseorang yang melanggar maka akan terjadi hal yang buruk atau negatif.

Seringkali kita mendengar larangan untuk melakukan hal-hal tertentu dengan alasan yang kurang bisa diterima bahkan tidak masuk akal, pamali katanya. Ya, mitos! Dan kita pun menyepelekannya sesering kita mendengarnya.

Biasanya anak-anaklah yang menjadi ‘korban’ mitos-mitos ini. Mereka mendapat larangan dari orang tua, kakak, atau orang yang lebih dewasa dengan dalih ‘ndak ilok!’ (tidak boleh) tanpa penjelasan kenapa hal itu dilarang.

Jawa, suku dengan populasi terbesar pada pulau terpadat yang juga bernama sama di Nusantara ini dikenal dengan banyaknya mitos yang berkembang dalam kehidupan masyarakatnya.

Tetapi kita perlu tahu, sebenarnya mitos-mitos itu bukan sekedar bualan belaka. Ternyata dibalik mitos-mitos tersebut ada nilai kearifan yang bijaksana. Mulai dari aspek sosial, kesehatan, hingga genetika !

Penasaran pesan apa yang terkandung dalam mitos yang ada di Jawa? Yuk, kita simak beberapa pesan yang tersimpan di dalam mitos yang ada di masyarakat Jawa. Berikut ulasan mengenai Mitos dan Pesan tersiratnya :

1. Menyapu harus bersih, kalau tidak suaminya bakal brewokan

Lagi-lagi urusan kebersihan yang satu ini menjadi mitos sejak dahulu, dan entah siapa yang mempopulerkan mitos seperti itu. Jika dipikir apa hubungannya nyapu dengan jodoh? ah ada ada saja bukan. 

Usut punya usut ternya jaman dahulu perempuan tidak menyukai laki laki yang brewokan, karena brewok disimbolkan wajah yang tidak terawat. Jaman dulu orang brewokan diidentikkan dengan orang jahat, pelaku kriminal, jadi para gadis yang jaman dulu tugasnya hanya bersih-bersih rumah ditaku-takuti dengan pria brewokan itu.

Oleh karena itu bagi perempuan Jawa mitos tersebut menjadi momok tersendiri. Mereka tidak ingin kelak memiliki suami seperti itu akhirnya mereka berusaha agar lebih bersih saat menyapu. Tapi sebenarnya ada hal yang lebih penting dari suami yang brewokan. Berkembangnya mitos ini ternyata merupakan sebuah pesan tersirat yaitu saat menyapu memang sangat dianjurkan semua bagian ikut disapu alias bagian yang disapu harus benar benar bersih. Karena jika masih meninggalkan kotoran akan membuat rumah kita sendiri yang jorok dan bahkan bisa membuat siapapun yang berkunjung tidak nyaman. Pesan dari mitos tersebut adalah untuk selalu menjaga kebersihan rumah terutama dengan rajin menyapu.

2. Gadis tidak boleh duduk di depan pintu, nanti bakal sulit dapat jodoh.

Jawa juga sangat menjunjung tinggi tata krama dan semua adap tentang tingkah laku. Mitos ini melarang seseorang agar tidak duduk di depan pintu, dan memberi karma berupa sulit mendapatkan jodoh. Jika kita amati secara perlahan. Keberadaan mitos yang tidak memperbolehkan duduk di depan pintu sebenarnya masih masuk akal. Sebab siapapun itu yang duduk didepan pintu akan menghalangi orang lain masuk ke dalam rumah. Bahkan jika ada tamu yang berkunjung itu bakal menghalangi jalan masuk juga.

Jadi pesan yang tersirat pada mitos ini adalah agar kita duduk ditempat yang selayaknya untuk duduk, dan juga dipastikan tidak menghalangi orang lain.

3. Anak kecil yang keluar saat magrib akan diambil Wewe gombel

Mitos ini sangat manjur untuk menakut-nakuti anak-anak pada Zaman itu. Karena oleh orang tua dulu digambarkan bahwa Wewe Gombel dalam masyarakat Jawa adalah sejenis hantu wanita yang sangat menyeramkan, bermuka rusak dan berambut panjang berantakan (mirip kuntilanak) dengan satu ciri khas yaitu : payudara yang menjuntai ke bawah sampai sebatas lutut. Dan suka menculik anak-anak kecil Hiiiiiiii……

Oleh sebab itu mitos ini digunakan agar anak anak menghentikan aktivitas bermain diluar rumah alias tidak keluar rumah saat hari menjelang petang.

Waktu magrib adalah waktu pergantian siang ke malam. Bagi sebagian orang waktu ini digunakan sebagai waktu ibadah dan beristirahat dari aktivitas seharian. mengharuskan segala aktivitas yang ada di luar rumah akan hentikan. Jadi, pesan yang ingin disampaikan dalam mitos ini adalah menggunakan waktu magrib untuk ibadah dan berkumpul bersama keluarga di rumah.

4. Tidak boleh potong kuku malam hari pamali

Mitos ini beredar dimasyarakat jawa karena pada saat itu belum ada listrik, bahkan penerangan hanya berasal dari lampu ublik. oleh karena itu mitos ini dibuat sembari untuk mencegah tangan kita terluka maupun tergores pada kulit maupun kuku.

Jadi, bukan pamalinya namun menjaga agar seseorang tetap aman saat melakukan aktivitas dengan benda tajam apalagi malam hari.

5. Jangan Pakai Baju Hijau saat dipantai Selatan nanti diambil Nyi Roro Kidul.

Keberadaan mitos itu memang telah beredar dimasyarakat Jawa khusus yang berada di daerah Pantai Selatan. Sebenarnya mitos ini untuk beredar di masyarakat untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang buruk saat bermain di Pantai. Kita tau bahwa Pantai Selatan memiliki ombak yang lumayan besar jadi ketika bermain disana dan tidak sengaja terseret ombak orang-orang disekitar kita akan mudah memberikan pertolongan.

Namun bayangin aja deh kalau kita, memakai baju hijau atau biru itu dimana warna itu mirip dengan warna laut, pasti orang disekeliling tidak menyangka jika ada orang yang terseret ombak alias mereka tidak jeli untuk melihat jika ada orang terseret omah. Jadi, sebenarnya selain mungkin ada kepercayaan sebagian orang terhadap keberadaan Nyi Roro Kidul yang dianggap sebagai Penghuni Pantai Selatan. Namun mitos ini juga sebagai kepedulian masyarakat akan pencegahan kecelakaan di Pantai.

6. Seseorang yang makan dengan posisi tidur bisa jadi ular

Bagaimana mungkin manusia berubah menjadi hewan? ini juga sangat tidak logis. Sebenarnya ada maksud yang tersembunyi pada mitos ini. 

Larangan tersebut telah mengajarkan kepada kita agar makan sebagaimana dengan posisi yang baik yaitu duduk. Selain itu makan dengan posisi tiduran hanya akan membuat kita mudah tersedak. Dan sebaiknya juga saat makan ada di ruang makan, atau dimeja makan bukan dikamar tidur yang fungsinya untuk istirahat.

7. Jangan duduk di bantal nanti bisulan

Sebenarnya tidak ada hubungannya antara penyakit bisulan dengan duduk di bantal. Namun mitos ini berkembang untuk menjaga fungsi bantal sebenarnya. Toh, sudah semestinya bukan bantal digunakan untuk meletakkan kepala? Jadi secara tidak langsung mitos ini untuk mengembalikan fungsi bantal yang sesuai dan kita juga tau bahwa tidak sopan jika bantal digunakan untuk tempat duduk. Kecuali jika bantal tersebut telah didesain khusus sebagai alas duduk.

Jadi ini berhubungan dengan nilai kesopanan. Tidak ada hubungannya dengan ilmu kesehatan apalagi sampai ilmu perbisulan.

7. Kalau Makan Harus Dihabiskan, Kalau Tidak , Ayamnya Akan Mati

Ini berhubungan dengan etika hidup, bahwa kita dilarang menyisakan-untuk dibuang-makanan. Orang tua bersusah payah mencarikan nafkah untuk anak-anaknya, maka jangan sekali-kali membuang dan menghambur-hamburkannya. Nah, masalah ayam mati itu hanya untuk menakut-nakuti anak-anak karena jaman dulu ayam masih merupakan peliharaan yang lumayan berharga, jadi memang benar-benar dijaga jangan sampai hilang atau mati sia-sia. Kalau jaman sekarang sudah tidak pas lagi karena sekarang sudah jarang orang memelihara ayam. Kalau tidak punya ayam lalu ayamnya siapa yang mati kalau kita tidak menghabiskan makanan?

Ternyata, ada dua nilai kearifan yang ditanamkan melalui mitos ini. Yaitu menghargai makanan sebagai rezeki karena banyak orang mati karena tidak bisa makan dan kasih sayang kepada sesama.

Itulah beberapa mitos yang tersebar di Jawa, Walaupun terdengar sangat tidak logis. Begitulah kultur masyarakat Jawa dimana sebagian orang masih percaya dengan mitos di tengah era modern yang semakin berkembang. 

Percaya atau tidak kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Sebagai umat beragama segala sesuatunya tetap harus kita percayakan pada Tuhan Yang Maha Esa. Pantangan atau pamali ini dapat kita jadikan sebagai pengetahuan bahwa Indonesia Negara yang kita cintai ini memiliki banyak sekali tradisi dan kebiasaan unik yang patut kita lestarikan.

Di samping itu, Mitos Jawa pula memiliki ajaran positif bagi setiap manusia agar selalu meyakini bahwa di luar kekuatannya terdapat kekuatan lain yang bersifat gaib. Baik kekuatan Tuhan maupun kekuatan-kekuatan gaib lainnya.

Namun sekarang kita tau, bahwa orang jaman dahulu membuat mitos tersebut secara tidak langsung untuk menyebarkan pesan baik kepada masyarakat.



Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar