Filosofi Kemenyan Bagi Masyarakat Jawa

Filosofi Kemenyan Bagi Masyarakat Jawa

Filosofi Kemenyan Bagi Masyarakat Jawa

Banyak masyarakat yang masih beranggapan bahwa kemenyan merupakan sesuatu yang klenik, mistis, ataupun kerap dikaitkan dengan upacara penyembahan roh.

Anggapan tersebut tidak salah, karena untuk beberapa generasi, ada konstruksi yang membentuk pandangan masyarakat mengenai kemenyan, baik melalui visual maupun media lainnya. Ada kesan mistik ketika kita mencium aroma kemenyan atau melihat orang lain membakar kemenyan. Kesan tersebut bukan ada dengan sendirinya melainkan melalui konstruksi yang panjang. 

Ada pula sebagian umat Islam yang menilai kemenyan identik dengan kesyirikan. Kemenyan Iku Syirik!!.

Pandangan ini terus disuarakan sehingga lambat laun kemenyan mulai jarang digunakan, hanya pada masayarakat tertentu dan dalam kondisi tertentu.

Tidak salah jika Anda merasa risih dan antipati terhadap kemenyan. Apalah mau dikata, lha wong memang masyarakat sudah terlanjur dicekoki media. Hampir semua film horor menunjukkan bahwa seakan-akan kemenyan itu barangnya paranormal. Dibakar diatas bara api untuk mendatangkan jin dan setan.

Lama-kelamaan opini pun terbentuk. Belum apa-apa, kalau sudah menyebut nama kemenyan pikiran orang langsung buruk. Pasti syirik, pasti angker dan keramat. Padahal kemenyan sudah ada jauh sebelum manusia bisa dibodohi media.

Mereka yang berpikiran terbuka (atau setidaknya yang lebih bisa menghargai nilai tradisional) biasa menggunakan kemenyan semata-mata sebagai wewangian aromaterapi. Misalnya dibakar ketika hendak melaksanakan sholat tarawih, dengan tujuan agar memberikan aroma khas yang memicu kekhusyukan beribadah.

Kemenyan juga dibakar ketika menggelar hajat pernikahan maupun pertemuan keagamaan dan selamatan. Wangi kristal kemenyan, sekalipun kadang terasa menyengat, sebenarnya sangat bagus untuk menenangkan pikiran. Agar fokus pada apa yang sedang menjadi hajat banyak orang. Bukan sekedar berkumpul-kumpul saja tapi pikirannya melayang kemana-mana.

Kemenyan memiliki filosofi tersendiri di mata para leluhur orang Jawa. Sama halnya dengan bunga, kemenyan juga disebut sebagai ubarampe (perlengkapan). Dahulu kemenyan dapat ditemukan di beberapa acara seperti ritual perkawinan, kelahiran, selametan dan masih banyak lagi. Namun seiring berkembangnya zaman, kemenyan jarang digunakan sebagai ubarampe lagi.

Hampir sama dengan bunga, kemenyan juga merupakan simbol untuk menyampaikan sebuah pesan, sarana berdoa, dan memohon keselamatan. Kemudian, kemenyan yang dibakar dan mengeluarkan asap bermakna talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos.

Hal tersebut berarti bahwa setiap hajat, ritual, atau acara yang diselenggarakan, hendaknya selalu untuk meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kemudian bara api yang menyala bermakna semangat dan harapan di hati manusia untuk mewujutkan cita-cita yang sangat diharapkan. Sedangkan kepulan asap kemenyan bermakna agar doa yang dipanjatkan didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bakar Kemenyan Itu Syirik !

Semua benda bisa jadi syirik, nggak cuman kemenyan. Misal Keris atau lainnya , jika benda tersebut dipercaya bisa membuat sukses, rejeki lancar, lupa pada Tuhan. Syirik tidak terletak pada bendanya, tapi pada niat, tujuan, dan konsepnya. Selama hati bertauhid (meng-Esa-kan Tuhan), apa pun yang kau lakukan no problem. Pengertian syirik itu sederhana, kalau di hati kita ada Tuhan lain selain Allah.

Mengharumkan ruangan dengan membakar kemenyan, dupa, mustiki, setinggi kayu gaharu yang mampu membawa ketenangan suasana adalah suatu hal yang baik. Karena hal ini itba’ dengan Rasulullah saw. Beliau sendiri sangat menyukai wangi-wangian, baik minyak wangi, bunga-bungaan ataupun pembakaran dupa. Hal ini turun temurun diwariskan oleh beliau kepada sahabat dan tabi’in. Hingga sekarang banyak sekali penjual minyak wangi dan juga kayu gaharu, serta dupa-dupaan di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Musyrik itu letaknya di dalam kesalahan patrap hati dan skala prioritas berpikir. Syirik tidak terletak di kuburan, keris, kemenyan, jimat atau mantra. Syirik adalah kalau hati kita tidak mengutamakan cinta kepada Yang Maha Kuasa. Musyrik adalah orang yang menuhankan sesuatu yang bukan Yang Maha Kuasa. :)


Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar