Cerita Rakyat Jawa Tengah Yang Paling Populer Sampai Saat Ini

Cerita Rakyat Jawa Tengah Yang Paling Populer Sampai Saat Ini

Cerita Rakyat Jawa Tengah

Kita semua tahu, Indonesia tak hanya kaya akan beragam bahasa, suku, makanan maupun tarian tapi juga memiliki warisan budaya. Salah satunya adalah cerita rakyat yang turun temurun disampaikan secara lisan oleh orang tua, kakek atau guru di sekolah.

Pada umumnya, cerita rakyat bersifat anonim atau pengarangnnya tidak dikenal. Cerita rakyat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki cerita rakyat masing-masing. Misalnya Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah, ada banyak sekali cerita-cerita yang familiar di tengah-tengah masyarakat, baik dalam bentuk dongeng, mitos, legenda, maupun kisah-kisah yang mendekati fakta sejarah.

Berikut 5 cerita rakyat Jawa Tengah paling populer dan familiar di Indonesia. 


1. Dongeng Timun Mas

cerita timun emas

 

Cerita Timun Mas mungkin telah menjadi salah satu cerita rakyat yang begitu familiar di tengah masyarakat Indonesia, khususnya daerah Jawa.

Kisah ini sangat populer yang kerap diceritakan di buku-buku dongeng dan film-nya sempat ditayangkan di televisi.

Dongeng Timun Mas diawali dengan keinginan Mbok Rondo ( seorang janda) yang mengidam-idamkan seorang anak. Keinginannya tersebut mustahil didapatkan mengingat usianya yang beranjak tua dan tidak mungkin menikah lagi.

Lantas, Mbok Rondo pun mengikat perjanjian dengan Raksasa Hijau yang dipercaya dapat mengabulkan keinginannya.

Raksasa tersebut memberikan sebuah timun berwarna kekuningan yang nantinya akan lahir dari dalamnya seorang bayi.

Raksasa berpesan, apabila bayi yang muncul adalah bayi perempuan, maka Mbok Rondo harus bersedia menyerahkannya untuk menjadi santapan Raksasa.

Mbok Rondo pun menerimanya dan menyetujui persyaratan yang diminta.

Setelah dirawat selama tujuh hari di bawah lampu sentir, lahirlah dari dalam timun tersebut seorang bayi perempuan yang cantik dan menenangkan.

Bayi tersebut diambil dari timun yang telah berwarna kuning keemasan tersebut. Maka, Mbok Rondo menamainya Timun Mas.

Timun Mas tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cantik, pintar, dan baik hati. Mbok Rondo amat menyayanginya, begitu pun Timun Mas yang juga sangat menyayanginya.

Namun amat disayangkan, Mbok Rondo masih terikat janji dengan Raksasa Hijau untuk menyerahkan anak perempuannya untuk menjadi santapannya.

Maka, kisah Timun Mas dilanjutkan dengan petualangan Mbok Rondo dan Timun Mas bagaimana menyelamatkannya dari kejaran Raksasa Hijau yang mau menyantapnya.


2. Baru Klinting dan Legenda Rawa Pening

Baru Klinting dan Legenda Rawa Pening

Rawa Pening kini telah menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di Semarang. Luasnya mencapai 2.670 hektar yang mencakup empat wilayah kecamatan, yaitu: Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru.

Selain menawarkan keindahan alam yang memanjakan mata, Rawa Pening juga mengandung cerita legenda yang juga familiar di tengah-tengah masyarakat Jawa Tengah.

Kisah legenda Rawa Pening bercerita tentang seorang pemuda berwujud naga bernama Baru Klinting. Ibunya bernama Endang Sawitri, dan ayahnya seorang petapa di lereng Gunung Telomoyo bernama Ki Hajar Salokantara.

Singkat verita , Baru Klinting yang berwujud naga diperintah oleh ayahnya untuk bertapa ke Bukit Tugur. Kata ayahnya, suatu saat kelak, tubuhnya akan berubah menjadi manusia.

Dalam perjalanan masa pertapaan Baru Klinting, dikisahkan terdapat sebuah desa yang begitu makmur namun penduduknya sangat angkuh dan membenci orang miskin. Desa tersebut bernama Desa Pathok.

Konon, asal-usul terbentuknya Rawa Pening bermula dari keangkuhan penduduk desa tersebut.

Suatu ketika, Baru Klinting yang telah berwujud manusia datang untuk memberikan pelajaran kepada penduduk desa dengan menantang mereka mencabut lidi yang ia tancapkan ke tanah.

Dari anak-anak, kaum wanita, hingga para laki-laki perkasa, tidak ada satu pun yang berhasil mencabut lidi tersebut. Mereka pun menantang balik Baru Klinting untuk mencabutnya.

Dengan kesaktiannya, Baru Klinting lantas mencabut lidi tersebut dari tanah.

Secara ajaib, air memancar sangat deras dari dalam tanah di mana lidi tersebut baru saja dicabut. Dalam waktu singkat, desa tersebut tenggelam dan tidak ada satu pun warga yang sempat menyelamatkan diri.

Desa Pathok pun berubah menjadi hamparan telaga luas yang kemudian dikenal dengan Rawa Pening.

3. Kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

legenda jaka tarub

 

Legenda Jaka Tarub merupakan salah satu cerita rakyat yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa. Cerita ini bahkan diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.

Babad Tanah Jawi sendiri adalah naskah sejarah Kesultanan Mataram. Sebagian cerita yang tertulis di dalamnya memang mendekati fakta sejarah. Namun, sebagian cerita lainnya dinilai cenderung bersifat khayalan.

Kisah legenda ini berputar pada kehidupan tokoh utama bernama Jaka Tarub (pemuda dari Tarub). Setelah dewasa, ia digelari Ki Ageng Tarub.

Secara garis besar, legenda ini menceritakan kisah Jaka Tarub yang mencuri salah satu selendang dari tujuh bidadari kayangan yang sedang mandi di sebuah danau di hutan.

Hingga hari beranjak sore, bidadari-bidadari tersebut harus kembali ke kayangan. Sementara satu bidadari bernama Nawangwulan harus tertinggal di bumi lantaran selendangnya raib dicuri oleh Jaka Tarub.

Akhirnya, Jaka Tarub memperistri Nawangwulan hingga dikaruniai seorang anak bernama Nawangsih.

Setelah sekian tahun membina rumah tangga bersama Jaka Tarub, Nawangwulan akhirnya menemukan selendangnya yang hilang di lumbung padi belakang rumah Jaka Tarub.

Karena merasa ditipu oleh Jaka Tarub, Nawangwulan marah dan kembali ke kayangan meninggalkan Jaka Tarub.

Sementara itu, Jaka Tarub harus menanggung akibatnya dengan merawat anaknya sendirian. Nawangwulan yang marah besar juga tidak sudi lagi menemui Jaka Tarub selamanya.

4. Roro Jonggrang dan Asal Usul Candi Prambanan

Cerita prambanan dan roro jonggrang

 

Siapa yang tak mengenal Candi Prambanan? Salah satu candi yang terkenal di Jawa ini sangat berkaitan dengan kisah cinta antara Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang.

Kisah Roro Jonggrang tercatat sebagai salah satu cerita rakyat yang populer dari Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Cerita ini mengisahkan tentang percintaan seorang pangeran bernama Bandung Bondowoso dan seorang putri bernama Roro Jonggrang, yang diakhiri dengan dikutuknya sang putri menjadi sebuah batu (candi) karena tipu muslihat yang dilakukannya.

Dongeng ini juga memperlihatkan bagaimana asal usul terbangunnya Candi Prambanan, Candi Sewu, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam komplek Candi Prambanan.

Kisah ini diawali dengan terpikatnya pangeran Bandung Bondowoso kepada seorang putri dari Prabu Baka setelah ia mengalahkan kerajaannya. Putri tersebut bernama Roro Jonggrang.

Ketika Bandung Bondowoso hendak mempersuntingnya, Roro Jonggrang menolak lamaran tersebut lantaran ia tidak mau menikah dengan orang yang telah membunuh ayahnya.

Karena terus menerus dibujuk, akhirnya sang putri bersedia menikahinya namun dengan syarat-syarat yang mustahil dilakukan. Salah satunya, Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi dalam waktu satu malam.

Dengan mengerahkan bantuan jin, setan, dan dedemit, Bandung Bondowoso mampu membangun candi-candi dengan sangat cepat.

Sampai ketika candi ke-1000 hampir selesai, Roro Jonggrang merasa khawatir dan berusaha menggagalkan rencananya. Ia membangunkan dayang-dayang dan wanita-wanita desa untuk mulai menumbuk padi, serta memerintahkan agar tumpukan jerami dibakar di sisi timur.

Suara antan yang bertalu-talu dan sinar pembakaran jerami di sisi timur mengesankan bahwa hari telah terbit fajar. Dengan begitu, pasukan jin dan dedemit merasa ketakutan dan kembali ke dalam bumi.

Setelah Bandung Bondowoso menyadari tipu muslihat sang putri, ia sangat murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah batu. Namun karena kemurahan hati Dewa Siwa, Roro Jonggrang berubah menjadi sebuah arca.

Arca Roro Jonggrang tersebut lalu diletakkan sebagai pelengkap candi ke-1000.

5. Ajisaka dan Asal Usul Aksara Jawa

cerita ajisaka

 

Bagi yang pernah menempuh sekolah di daerah Jawa, pasti pernah belajar seputar penulisan aksara Jawa. Biasanya, aksara Jawa diajarkan pada mata pelajaran Bahasa Jawa.

Meski begitu, tidak banyak yang mengetahui tentang sejarah dan asal usul kemunculan aksara Jawa, baik dalam mitos dan cerita-cerita legenda maupun dalam catatan fakta sejarah yang sebenarnya.

Dalam konteks cerita rakyat, aksara Jawa ternyata juga mengandung satu cerita mengenai asal usul di balik terbentuknya penulisan aksara Jawa.

Kisah asal usul ini juga berkaitan dengan seorang pemuda sakti dari Majethi bernama Ajisaka bersama dua punggawa setianya, Dora dan Sembada. Dua punggawa ini sama-sama setia dan sakti mandraguna.

Satu saat, Ajisaka ingin pergi mengembara meninggalkan Majethi. Ia menunjuk Dora untuk menemaninya, sementara Sembada ditugaskan tinggal di Majethi dan menjaga pusaka andalan Ajisaka.

Ajisaka berpesan, pusaka tersebut tidak boleh diserahkan kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Dalam perjalanannya mengembara, Ajisaka sampai di Kerajaan Medhangkamulan. Negeri tersebut dikuasai oleh raja yang lalim dan suka memakan daging rakyatnya sendiri. Raja tersebut bernama Dewatacengkar.

Singkat cerita, karena kelaliman Dewatasengkar, Ajisaka dengan kesaktiannya berhasil mengalahkan Dewatacengkar, sehingga ia sendiri diangkat menjadi Raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus punggawanya, Dora, untuk mengambil pusaka andalannya yang dijaga oleh Sembada. Maka pergilah Dora ke Majethi menemui Sembada.

Ketika Dora meminta pusaka tersebut kepada Sembada, Sembada teringat akan pesan Ajisaka bahwa pusaka tersebut tidak boleh diserahkan kepada siapapun kecuali Ajisaka sendiri. Maka, Sembada menolak menyerahkannya kepada Dora.

Setelah saling berdebat, keduanya terlibat pertarungan sengit hingga sama-sama tewas mengingat dua-duanya sama-sama tinggi kesaktiannya.

Mendengar kabar tersebut, Ajisaka sangat menyesali akan kesalahannya. Untuk mengenang kedua punggawa setianya tersebut, ia lantas membuat sajak berbentuk sebait aksara :

ha na ca ra ka ada dua orang

da ta sa wa la saling bertarung

pa dha ja ya nya sama-sama kuatnya

ma ga ba tha nga sama-sama jadi mayat (mati)


*** Demikian rangkuman 5 cerita rakyat Jawa Tengah paling populer.

Cerita-cerita di atas hanya penggalan atau ringkasan pendek yang saya ambil dari berbagai sumber terpercaya. Sekian terima kasih :)


Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar