Percayalah Semua Wanita Itu Cantik , Tahu Gak Alasannya ??



Semua pria pastilah menyukai wanita yang cantik dan semlohe berbodi seksi. Kecuali jika kamu pria Homo.

Dan tahukah kamu, bahwa wanita yang paling indah sebenarnya adalah wanita Indonesia??
Sekarang, cobalah teliti apa yang ada di diri mereka. Dari soal rambut, hidung, warna kulit dan juga dari cara bersikap dan bertingkah laku sehari-hari layaknya orang Indonesia.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud merendahkan orang Bule atau orang Negro. Atau merasa lebih unggul. Tulisan ini untuk membesarkan hati, mempertebal percaya diri agar bangga menjadi wanita Indonesia seutuhnya. Nggak cuman fisik luarnya yang cantik, orang timur (indonesia) itu juga terkenal akan keramahannya dan sopan santunnya!!!

Hidung orang Indonesia itu pas. Kalau hidung orang bule terlalu mancung. Sedangkan orang Afrika (Negro) terlalu pesek dan besar (melebar). Hidung wanita Indonesia berada ditengah-tengah itu semua, Nggak mancung dan nggak pesek. Orang jawa bilang "irunge ngudhup melathi", Hidung seperti kuncup bunga melati (bunga melati yang belum mekar).

Juga soal tinggi badan dan warna rambut. Tinggi orang Indonesia itu ideal, nggak cebol dan nggak terlalu tinggi seperti cagak listrik. Rambut wanita yang ideal bagi saya adalah yang berwarna hitam. Bukan warna pirang, merah apalagi putih. Warna hitam adalah warna yang kuat , netral dan sangat fleksibel bila digabungkan dengan warna apa saja. Apapun warna pernak pernik hiasan di kepala , akan selalu mbois dengan rambut hitam.

Tapi, sayangnya jaman sekarang ini banyak wanita Indonesia yang lari dari dirinya. Melihat majalah wanita, ada model yang berkulit putih jadi sedih dan mbatin, "Waduh, kulitku kok nggak putih yaa, koyoke kulit putih iku sing apik...." Akhire pergi ke salon. Seharian, seminggu bahkan berbulan-bulan keluar masuk salon untuk memutihkan kulitnya.

Begitu juga soal rambut. Melihat orang bule yang rambutnya pirang, langsung takjub. Pergi ke salon, seharian rambut dipaksa untuk berubah warna. Ada yang nggak mau keluar uang banyak alias ora ragat, pergi ke apotik beli cairan kimia tertentu. Sekali tetes, besok saat bangun pagi, rambutnya berubah coklat kemerahan..persis koyok arek seng gaweane ciblon turut kali. Karena warnanya nggak merata.

K-pop sedang tren dan mewabah di kalangan anak muda. Dandanan dan model rambut pun mengikuti style para artis Korea. Rambut keriting atau ikal pun akhirnya dipaksa lurus, rebounding atau smoting. Memangnya rambut lurus itu lebih bagus dari keriting atau ikal..? Trend kadang membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya lari menjadi orang lain.

Sadarkah bahwa standard cantik selama ini dibentuk industri? Buktinya, banyak obat kecantikan bertebaran di media sosial. Itu bisa kamu temukan di kolom komentar akun seleb.

Standar kecantikan itu dinamis. Berubah setiap zaman dan peradaban. Lalu, untuk apa berusaha keras mengikutinya? Memang bukan hal yang dilarang. Tapi untuk apa jika itu menggugurkan kebahagiaan?

Pada zaman Yunani Kuno, standar cantik justru anti-skinny. Itu terjadi sekitar 500-300 tahun sebelum Masehi. Perempuan cantik ialah mereka yang tubuhnya berisi atau montok. Semakin montok, semakin cantik.

Saat itu, malahan fisik laki-laki yang dituntut sempurna. Ketampanan dihadapkan pada standar publik. Misalnya bertubuh kekar dan atletis.

Pada masa Renaissance Italia, standar kecantikan berubah. Itu terjadi sekitar tahun 1400-1700 Masehi. Cantik bukan lagi mereka yang montok, melainkan mereka yang gemuk. Benar-benar gemuk.

Selain itu, perempuan memiliki tambahan syarat untuk dianggap cantik. Seorang perempuan harus memiliki kulit terang. Untuk era sekarang, tentu ini sangat rasial.

Berbeda lagi saat era pemimpin Inggris, Ratu Victoria. Perempuan gemuk dan montok masih menjadi standar publik. Meski begitu, korset digunakan untuk merampingkan pinggang.

Namun, selain itu perempuan juga harus cerdas dan berwawasan luas. Kedua syarat tersebut harus dipenuhi untuk dianggap cantik. Perempuan gemuk dan cerdas plaing diidamkan.


Standar perempuan cantik akan selalu berubah. Tergantung zaman dan era. Makin celaka jika standar kecantikan dibentuk industri. Tujuannya tentu saja keuntungan. Golek bathi.

Berusaha cantik itu boleh saja. Malah semakin bagus untuk diri sendiri. Namun, jangan sampai kebahagiaan kamu terenggut. Sehingga kamu lupa menikmati apa yang kamu miliki.

Ibarat kata, standar kecantikan bisa menjadi penjara. Ruang berterali yang mengurung pemikiran. Kamu tidak akan merasa bebas, termasuk dalam berekspresi. Berharap melangkah dan berkembang, tapi takut tidak sesuai dengan standar publik.

“Anda harus tahu kalau pikiran anda sedang terpenjara. Penjara itu adalah segala pemikiran yang berasal dari luar diri Anda,” kata Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Misalnya, standar kecantikan yang dibuat industri. Perempuan harus berkulit putih, berpostur tinggi, hidung mancung, kelopak mata lebar, bibir tipis dan masih banyak lagi. Semua itu harus ada agar dianggap cantik.

Perlu kamu ketahui, cantik itu tidak berada secara fisik. Entah di paras atau bagian tubuh lain. Cantik itu sesuatu yang ghaib. Mudahnya, cantik itu subjektif. Berdasar setiap individu.

“Cantik atau tampan itu tidak ada di parasmu, wajahmu atau tubuhmu. Tidak ada secara fisik. Cantik atau tampan itu ada di dalam cintamu kepada orang itu,” ucap Emha Ainun Nadjib.

Cantik itu bukan yang dibentuk karena standarisasi. Cantik itu terletak di dalam rasa cinta. Selama kamu memandang dengan cinta, sesuatu akan tampak cantik nan indah. Tidak perduli dengan standar yang dibentuk.

Cinta bisa muncul kapan, di mana dan kepada siapa saja. Selama ada cinta, di situ letak kecantikan atau ketampanan. Tidak ada yang berhak menghakimi. Namanya juga cinta, tidak pernah salah.

Jadi, untuk tampil cantik, seseorang harus percaya diri. Bersyukur dengan menerima diri secara baik dan positif. Itu kuncinya.

Setiap orang berhak merasakan bahagia atas apa yang dimiliki. Berusaha semaksimal mungkin itu harus, tapi jangan sampai kehilangan percaya diri. :)

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar