Corona Di Negara +62





Virus Corona atau Covid 19 (Corona Virus Disease 2019) kembali ramai diberitakan di media massa tanah air setelah Presiden Jokowi mengumumkan ada dua orang WNI warga Depok-Jawa Barat positif terjangkit virus Corona pada hari Senin 2 Maret lalu. Kedua orang tersebut dinyatakan positif setelah sebelumnya melakukan kontak fisik dengan warga negara Jepang (yang lebih dulu dinyatakan positif terjangkit virus Corona) dalam suatu acara di Jakarta.

Kejadian ini telah membuat sebagian masyarakat panik. Tapi kebanyakan yang panik itu kalangan menengah ke atas. Kalau rakyat jelata nggak ada urusan. Panik opo. Panik itu kalau nggak ada uang buat beli beras. atau panik itu ketika pacarmu tiba-tiba bilang " mas aku telat dua bulan ".

Rakyat jelata jangan ditakut-takuti Corona. Ojok maneh Corona, lha wong lokalisasi kelas teri dimana resiko terkena sipilis sangat besar, banyak yang jajan di situ. Gak wedi.

Corona ini khan ponakannya SARS dan MERS. Penyakit jurusan saluran pernafasan. Cuma lebih keras dari flu. Jadi nggak usah panik berlebihan.

Kalau kita mundur ke belakang dimana dulu SARS dan MERS mewabah, rakyat Indonesia terbukti lebih kedot dibanding bangsa lain. Korbannya lebih sedikit. Ketahanan tubuh bangsa kita itu beda. Bukan karena gizinya terjamin. Mereka tangguh karena terbiasa hidup sengsara dan juga karena punya kekuatan dahsyat yang bernama sugesti.

Kalau ada ulama yang meminta umat perbanyak doa Qunut untuk menangkal Corona, lakukan saja. Bukan karena doa Qunut atau doa yang lain yang membuatmu terhindar dari Corona, tapi karena sugesti dan kesungguhannmu mencintai-Nya. Tuhan jadi terharu. Corona pun sungkan mendekatimu.

Kalau nggak bisa baca doa Qunut ya gak papa, yang penting jaga kebersihan. Kalau muslim ya menjaga wudhu, kalau agama lain aku gak eruh. Tanpa merapal doa pun Tuhan tahu isi hatimu. Kamu bikin doa sendiri pun nggak masalah. Sak mampumu. "..wis pokoke podo ngertine ya Alloh.." Iyo le.

Corona sudah nyampai Eropa. Padahal jauh dari pusat wabah. Sedangkan Indonesia yang dekat dengan Tiongkok malah baru dua orang yang positif. Pejabat tinggi negara-negara bule tadi perutnya mules nggak percaya dengan fakta itu. Kesan mereka, pemerintah kita nyantai dalam menangani Corona. Nggak nyantai, cuman alat tesnya mahal, nggak mampu beli (mungkin) .

Orang bule itu gizinya oke, olahraganya teratur, tapi di pikiran mereka tertanam ketakutan yang sangat pada sakit dan kematian. Rasa takut berlebihan itulah yang mengundang penyakit. Kans untuk sakit lebih besar. Beda dengan kita yang nrimo ing pandum, menghadapi hidup dengan asyik. Maka penyakit jadi minder, males mampir.

Kalau pikiran sudah beres, urip gak bakalan rembes. Hidup memang selalu ada masalah tapi bagaimana caranya kamu harus lebih besar dari masalah. Masalah itu bukan masalah kalau kita tahu solusinya. Istri cerewet bukan masalah kalau bisa ngatasinya. Disebut masalah kalau nggak bisa ngatasi. Matio kono.

Yang nggak asyik di sini itu selalu saja ada orang yang memanfaatkan situasi. Musibah jadi lahan bisnis. Saat orang butuh masker, masker hilang di pasaran karena diborong pedagang mbokneancuk alias motherfucker.

Yang asyik itu Bu Risma yang sengaja menimbun masker agar tidak keduluan pedagang. Saat nanti benar-benar dibutuhkan akan dibagikan gratis ke warga. Dan itu cukup membunuh pasar para penimbun masker. Kalau ada yang gratis, kenapa harus beli.

Tapi silakan saja kau pedagang bajingan borong semua masker dan hand sanitizer. Jual lagi dan naikkan harganya sepuluh kali lipat. Hanya orang kaya tolol yang membelinya. Rakyat jelata nggak perduli. Masih ada taplak.

Bagi rakyat jelata, uang 75 ribu itu sayang kalau dibelikan masker. Mending buat ngopi rame-rame sambil rasan-rasan. Atau beli paket data. Lumayan buat ngeksis di medsos sak ndlosore.

Sementara di negara-negara bule ketar-ketir dengan virus Corona, di sini enggak. Yang heboh itu media atau kumpulan orang kaya manja. Sebelum ada virus Corona pun, mereka kemana-mana pakai masker. Bahkan di dalam kereta api eksekutif yang ber-AC pun dipakai. Itu sok steril apa anti sosial?

Negara bule itu kadang alay, terlalu defensif pada rakyatnya. Untung Scorpions dan Whitesnake konser di Jogja kemarin belum ada kasus pasien positif Corona. Kalau sudah ada sebelum hari H, kemungkinan besar mereka membatalkan konsernya. Personile wis tuwek-tuwek.

Dulu saat Bali dibom oleh teroris, negara-negara bule langsung mengeluarkan travel warning ke Indonesia. Konyol. Memangnya Indonesia itu cuman Bali. Lagian teroris yang sudah ngebom itu nggak akan ngebom lagi setelah 3 bulan bahkan 5 tahun ke depan. Karena setelah dibom, keamanan pasti diperketat.

Semua orang takut mati, tapi ojok nemen-nemen talah. Begitu ketatnya perlindungan negara-negara mapan pada rakyatnya koyok sempak anyar ukuran S.

Wis ah gitu aja.. Pokoknya tetep jaga kesehatan dan kebersihan :)


Anda mungkin menyukai postingan ini