9 Falsafah Jawa Yang Berguna dalam Kehidupan Kita Sehari-hari

9 Falsafah Jawa Yang Berguna dalam Kehidupan Kita Sehari-hari

Falsafah Jawa Yang Berguna dalam Kehidupan Kita Sehari-hari


Jika hidup adalah perkara membuka mata, maka sebenarnya tiap hari kita telah mengalami "mati". Manakala mata terpejam, jasad telah menjadi mayat.

Pelajaran demi pelajaran terangkai jadi buku kehidupan penuh makna. Bagi yang mau memetik hikmah di segala ujian hidup, maka akan menjadi pribadi yang lebih kokoh. Bagi yang bodo amat, yasudah hanya sebatas angin lalu saja.

Namun, dalam budaya Jawa terdapat falsafah yang nilai-nilainya penuh hikmah dan fleksibel. Memang kita tak bisa berlindung sepenuhnya pada falsafah kehidupan, tapi setidaknya falsafah bisa menjadi "senter" atau alat bantu penerang dalam hidup ini.

Falsafah Jawa


1. Urip iku urup (hidup itu nyala)

goodnewsfromindonesia

Artinya: Ketika kita diberi kehidupan oleh Pencipta, hendaknya memberikan manfaat bagi orang lain dan sekitar. Alangkah indahnya jika kita saling berbagi. Apalagi kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Sebagai individu yang berbeda, kemampuan pun berbeda pula. Seandainya kita memiliki kelebihan "cahaya", mengapa tak membantu menerangi yang gelap?

Dan, seiring falsafah urip iku urup ini, aku berprinsip bahwa masing-masing kita adalah "gelas". Berkah yang diberikan Pencipta ialah pengisi dalam gelas tersebut. Ada yang kurang, cukup, dan lebih. Semua itu terjadi agar manusia saling mengasihi dan berbagi.

Jika ada yang berlebihan "minuman"-nya, mengapa tak diberikan kepada yang kurang? Bukankah tumpahan dari gelas itu hanya akan sia-sia dan mubazir belaka?



2. Nerimo ing pandum (menerima apa yg sudah dibagikan kepadanya)

sarungpreneur

Artinya: Ikhlas dan selalu bersyukur adalah kunci kebahagiaan hidup.

Ketika diberi "sepuluh", belum tentu seseorang itu dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Berbeda dengan yang hanya memiliki "tiga", tapi menemukan arti bahagia.

Kenapa?

Rasa bersyukurnya kurang. Padahal dia diberi kelebihan dibanding orang lain. Dan, yang diberi kurang mampu ikhlas terhadap kepunyaannya.

Ini bukan mengajarkan pasrah dan menerima begitu saja. Tapi, berusaha dulu baru menyerahkan dan ikhlas kepada Sang Pembagi. Lalu bersyukur atas sedikit atau banyaknya pendapatan kita. Yakin saja, segala sesuatu yang ditakdirkan menjadi milik kita, akan sampai kepada kita.


3. Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman (jangan terkungkung oleh kedudukan, duniawi, dan kepuasan)

studio sinten

Artinya: Gemerlap dunia memesona siapa saja untuk terjebak di dalamnya. Namun, jangan sampai menenggelamkan kita.

Boleh-boleh saja mengejar kedudukan, duniawi, dan kepuasan pribadi. Tentu tak ada yang melarangnya. Tiap individu punya hak masing-masing menyetir kehidupannya.

Tapi, harus tahu porsinya. Untuk apa mengejar semua itu? Apa fungsinya? Apa manfaatnya untuk diri sendiri dan orang lain? Bagaimana cara mendapatkannya, dengan kerja keras atau malah menghalalkan segala cara?

Semua yang baik dalam dunia ini boleh kita miliki. Asal jangan berlebihan dalam mengejarnya. Bukankah segala yang berlebihan itu tidak baik? Ya, yang sedang-sedang saja.


4. Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendo (jangan tergiur barang mewah, jangan ragu agar tak patah semangat)



Artinya: Kemewahan selalu menggiurkan siapa saja, namun jangan sampai memperbudak kita. Selain itu, keraguan lebih kerap menghampiri daripada keyakinan.

Manusia diciptakan dengan perangkat akal dan hati untuk mengendalikan segala hal. Jangan sampai terbalik. Jangan sampai kebendaan yang tidak berakal dan berperasaan mengendalikan manusia.

Jadi, siapa yang "manusia" dan siapa yang "benda"? Jangan sampai kita bingung membedakannya. Silakan bergelut dengan kemewahan, tapi jangan sampai diperbudak olehnya.

Perihal keraguan, sebenarnya hanya ada dua pilihan untuk terus melangkah. "Ya" atau "tidak", itu saja. Pilih di antara keduanya, lalu putuskan untuk terus melangkah atau berhenti. Karena keraguan tidak akan menghasilkan apa-apa.


5. Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan (jangan mudah sakit hati dan sedih manakala kehilangan sesuatu)


Artinya: Kehidupan tak menjamin bahagia selamanya dan bebas kedukaan. Sedih pasti dialami tiap manusia, tapi jangan sampai berlarut-larut.

Ketika dilahirkan ke dunia ini tanpa membawa apa-apa dan dikembalikan dengan sehelai kain putih, maka sebenarnya apa yang benar-benar milik kita? Tidak ada.

Manusia hanya dititipi. Entah kapan waktunya, perlahan akan diambil Pemiliknya. Syukur-syukur kalau Dia menitipkan segalanya hingga akhir usia kita. Maka alangkah beruntungnya dalam hidup ini.

Nah, jika kita termasuk bukan orang beruntung itu, yasudah ingat kembali bahwa itu hanya titipan. Oleh karena itu, pantaskanlah diri untuk dititipi dan menjaga sebaik-baiknya apa saja yang kita miliki. Kebanyakan dari kita baru merasa sesuatu itu berharga setelah kehilangan.



6. Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman (jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah kaget, jangan manja)


Artinya: Menyikapi segala kejadian dalam hidup ini sewajarnya saja.

Bangunlah diri sendiri sekokoh mungkin dengan wawasan dan pengetahuan. Sehingga tidak mudah terheran-heran dan kaget dengan kebaruan, tidak mudah menyesal dengan keputusan yang telah diambil (karena sudah dipikirkan secara matang), serta tidak manja.

Seiring dengan falsafah ini, aku berprinsip ketika dilahirkan ke dunia ini seorang diri, maka harus mandiri dan tidak boleh manja. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan sendiri harus bisa. Setelah tercukupi, baru membantu orang lain.



7. Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka (jangan merasa paling pintar agar tidak salah arah, jangan berbuat curang agar tidak celaka)


Artinya: Seumur hidup adalah proses pembelajaran dan tidak ada yang paling pintar mengenai kehidupan.

Kita hidup memiliki pengalaman masing-masing. Belajar banyak dari tiap kesalahan, baik kesalahan kita sendiri maupun kesalahan orang lain.

Pada dasarnya sesama manusia hanya berbagi pengalaman. Agar yang buruk tak dialami lagi oleh yang lain dan yang baik dapat terus dilakukan.

Kebahagiaan terletak pada keberkahan, bukan pada banyak atau sedikitnya barang-barang. Dengan demikian, maka jangan berbuat curang (misalnya mengurangi timbangan atau menipu orang lain).


8. Aja adigang, adigung, adiguno (jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, latar belakang)

freepik

Artinya: Kelebihan hidup adalah nilai tambah dari Pencipta. Tidak semua orang memilikinya. Maka jangan sombong.

Ada seseorang yang sudah ditakdirkan mudah kehidupannya sejak lahir karena faktor keluarga. Ada pula yang harus kerja keras terlebih dulu karena dia bukan dari keluarga berada.

Kekuatan dan kedudukan bisa diperoleh siapa saja yang berusaha mendapatkannya. Tapi, kita tak bisa mengubah latar belakang kehidupan. Jadi, bagi seseorang yang diberi kenikmatan mudah segalanya, hendaknya jangan sombong dan memandang rendah orang lain.



9. Alon-alon waton kelakon (perlahan asal tercapai)

Regina Yovitasari

Artinya: Jika tidak mampu cepat menyelesaikan sesuatu, maka jangan tergesa agar hasilnya tercapai maksimal.

Ketergesaan terkadang melupakan ketelitian. Hingga tak jarang cepat-cepat akan menghasilkan hasil tak memuaskan. Maka perlahan saja dan hati-hati.

Tapi, jangan menjadikan falsafah ini sebagai "payung" bermalas-malasan. Dengan berdalih alon-alon waton kelakon dalam mengerjakan tanggung jawabnya, ternyata hanya malas mengerjakan saja.

Ada juga yang mengatakan lebih cepat lebih baik. Nah, jadi dipilih saja yang sesuai dengan karakter pribadi. Yang paling baik adalah lebih cepat lebih baik, asal hati-hati.

Baiklah, beberapa falsafah Jawa di atas bisa menjadi "senter" agar menerangi kehidupan kita. Tentu tak hanya berlaku bagi orang Jawa saja, tapi bagi semua orang yang mau mengamalkannya.


Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar