Tak Bisa Lepas Dari Smartphonemu? Mungkin Kamu Terkena Sindrom Nomophobia. Yuk Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya


Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah istilah baru, yang berarti ketakutan akan dipisahkannya pengguna dengan gadget kesayangannya. Selain itu, nomophobia bisa juga merupakan rasa ketergantungan seseorang terhadap ponselnya, baik untuk melakukan hal-hal sederhana hingga untuk meyampaikan beragam informasi.

Terminologi Nomophobia kali pertama dikemukakan tahun 2010 oleh kantor pos Inggris yang menugaskan YouGov, suatu organisasi riset di Inggris, untuk mensurvei 2.163 orang guna keperluan melihat tingkat kecemasan akibat penggunaan ponsel cerdas.

Penelitian ini berhasil menemukan sekitar 53 persen dari para pengguna telepon genggam di Inggris cenderung merasa cemas saat mereka kehilangan HP, kehabisan baterai, atau ketiadaan sinyal.

Komunikasi antar manusia secara tatap muka jadi makin jarang. Generasi muda kini lebih suka berkomunikasi via gadget (email, chatting, Twitter, Facebook), daripada tatap muka langsung.

Orang jadi jarang mengamati lingkungan sekitar, karena lebih tenggelam dengan gadgetnya. Akibatnya, rasa peduli pada sekitar berkurang, justru lebih mempedulikan isu-isu di socmed dari gadgetnya.

Manusia dapat saja teralineasi oleh mesin. Pada saat itu, manusia akan menjadi apatis dan anti sosial. Gadget, sebagai ‘fetish’ baru, telah menjadi semacam ‘dewa’ baru yang dipuja-puji.

Tanda-Tanda Nomophobia


Rata-rata pengguna ponsel mengecek ponsel mereka sebanyak 80 kali per hari. Selain itu, mereka juga akan menggeser layar dan mengklik sebanyak 2617 kali perhari. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata pengguna ponsel adalah nomophobia. Entah sadar atau tidak.

Berikut ini adalah tanda-tanda seseorang yang mengalami nomophobia:
  • merasa cemas saat baterai ponsel lemah, di luar jaringan, atau kehabisan pulsa
  • tidak nyaman saat keluar tanpa membawa ponsel
  • merasa tidak nyaman saat tidak bisa mengakses ponsel
  • sering mengecek ponsel di tengah-tengah obrolan
  • kerap mengecek ponsel hanya untuk melihat sesuatu yang update di media sosial

Apa yang harus kita lakukan untuk terhidar dari nomophobia?


Salah satu yang dapat dilakukan adalah disiplin dengan gadget. Kita seyogyanya membiasakan waktu tertentu dimana pertemuan keluarga ‘disterilkan’ sama sekali dari gadget, supaya ada diskusi yang hangat dan bermakna.

Gadget adalah ciptaan manusia, sehingga jangan sampai kita diperbudak olehnya. Kemudian, salah satu aktivitas yang dapat mengurangi “nomophobia” adalah mengintensifkan kegiatan outdoor, seperti rekreasi alam, dan olahraga secara teratur.

Satu hal yang tak kalah penting, sebagai orang yang beragama, maka mengintensifkan ibadah dan terlibat secara intens pada pertemuan jemaat atau umat dapat mengurangi tendensi anti sosial yang timbul dari nomophobia.


Bagaimana Caranya Menghindari Nomophobia?


Ada beberapa langkah untuk menghindarkan diri dari nomophobia, diantaranya;

1. Mencari waktu tertentu untuk memutuskan jaringan
Ada beberapa waktu yang perlu dihormati dengan mematikan ponsel seperti saat makan, belajar, bekerja, bertemu dengan seseorang, tidur, dan lain sebagainya.
Hal ini tentu dapat meningkatkan produktivitas jika benar-benar dilakukan.

2. Memberi perhatian lebih besar pada kehidupan nyata dibandingkan kehidupan maya
Sebagian orang seringkali terjebak dengan kehidupan maya hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
Hal ini dapat berdampak buruk misalnya jika sedang berada dalam pertemuan atau obrolan dengan orang lain.

3. Memberi batas informasi yang kita perlukan
Memeriksa jumlah notifikasi atau pesan yang diterima terus menerus sepanjang hari sangatlah membuang waktu.
Lebih baik menggunakan waktu tersebut untuk hal berkualitas.

4. Lebih banyak bersosialisasi dalam kehidupan nyata
University of Sheffield mendapati adanya manfaat tertentu dari mematikan ponsel dan memberi perhatian lebih pada kehidupan sosial nyata.
“Ponsel bisa menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Be wise to use it!”


Bijaklah dalam menggunakan smartphonemu :)

Nomophobia: The word of the year has been crowned but chances are you’ve never heard it

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar