Pengguna Medsos Itu Banyak , Jadi Tolong Jangan Baperan


Apa anda termasuk orang yang baperan? Jika ya, pastikan baca postingan ini sampai tuntas. Why? Biar kalian bisa mengendalikan perasaan dengan baik.

Seiring dengan semakin menggilanya dunia digital, maka semakin banyak pula orang yang mengalami ketergantungan pada gadget. Hampir 7/8 hidupnya dihabiskan untuk gadget.

Rumah-rumah tampak sepi, sebab penghuninya sibuk menghadapi layar datar. Suasana kampung lengang tidak terlihat orang yang sedang bertetangga, karena orang-orangnya sibuk bersosialisasi di dunia maya.

Tulisan berdenting seperti mata pedang yang sedang bertarung. Ganas, menyerang, menyeret, mengoyak, sekehendak. Berteriak dikegelapan, mencekik dibelakang layar, tergelak dibalik ketiak.

Berselancar didunia maya atau bergaul didunia nyata, semestinya sama saja. Memakai etika dan mengedepankan adab serta tata krama. Tulisan mau pun lisan sama-sama berbahaya jika melampaui penggunaannya.

Apa boleh buat, kita sedang berada dalam situasi dimana ketika bermaksud menyindir satu orang akan tetapi yang baper ternyata sejagad raya. Karena nyindirnya di media sosial. Apa kalian termasuk yang suka kesindir oleh status orang lain? Jika ya, berarti fix, kalian baperan.

@puputaulia10

Dari kacamata psikologi, orang yang baperan alias mudah bereaksi karena terpancing secara emosional ini dikategorikan sebagai highly sensitive person.

Hal ini serupa tapi tak sama dengan empati. Dalam situs Chakra Center, psikolog dan penulis buku The Highly Sensitive Person, Dr. Elaine Aron (1997) mendefinisikan highly sensitive person sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi indranya.

Orang dengan empati tinggi pun dikatakan sensitif terhadap energi-energi di sekitarnya, tetapi ia lebih memfokuskan perhatiannya terhadap pengalaman dan perasaan orang lain atau dengan kata lain, turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara, highly sensitive person atau Si baperan membuat dirinya sebagai sentral atensi.

Saat dihadapkan dengan suatu tragedi yang dialami seorang kerabat, orang empati akan memosisikan diri dalam situasi dan kondisi sang kerabat.

Sedangkan Si "baper" akan merelasikan tragedi kerabatnya tersebut dengan kehidupannya sendiri dan membawa situasi emosional ini lebih jauh daripada seorang yang empati.

Udah fix, ya? Faham 'kan bedanya?

@revasafitri98

Setiap kesempurnaan berangkat dari sebuah kesalahan. Karenanya ketika kita melakukan salah tak perlu berlarut dalam penyesalan namun tanpa perbaikan. Mari beraksi memperbaiki diri, tak ada gading yang tak retak, begitu pun tidak ada manusia yang tak pernah melakukan dosa.

Daripada baper karena baca status orang. Lebih baik kelola perasaan kalian dengan baik. Baperlah pada tempatnya. Atau klo memang sungguh tak bisa lebih baik tak usah berselancar didunia maya atau memakai medsos. Mending main kelereng aja di rumah.

Karena baper selain mengikis perasaan juga ternyata bisa mengganggu kesehatan.
Pada kasus yang parah baper bisa menjadi penyebab timbulnya penyakit bipolar atau bahkan bisa merujuk kalian menjadi seorang psikopat. Duuhh, ngeri gak sih guys?!

Lagi pula klo dipikir-pikir orang yang baperan itu sungguh menyedihkan. Bagaimana tidak? Pengguna sosial media itu bejibun, bak jamur diatas oncom, tak terkira banyaknya. Klo setiap status trus dibaperin, ya, capeklah kalian.

@leha_amelia5

Ayo belajar mengendalikan perasaan dengan cerdas dan menggunakan digital dengan bijak. Baper itu tidak salah yang salah itu cara menempatkannya. Jangan sampai berenang di kolam yang salah, ya' guys!

Hal ini tidak berlaku bagi orang yang memiliki daya insting kuat. Dia bahkan bisa tau tanpa harus mendengar atau melihat. Karena semesta memberi tahu dengan caranya.

Ingat, mata bisa saja kabur dalam pandangannya. Telinga mungkin saja samar dalam pendengaran. Tapi big NO! bagi yang mempunyai feeling setajam pedang, dia tidak akan terkecoh.

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar