Ketahui Mitos dan Fakta Seputar Anak Tunggal

Ketahui Mitos dan Fakta Seputar Anak Tunggal

Ketahui Mitos dan Fakta Seputar Anak Tunggal

Bagi kita yang memiliki saudara kandung, bertengkar dengan saudara sendiri adalah hal mungkin lumrah terjadi. Rasa-rasanya ketika kecil dulu, ada yang mengganjal jika tidak saling mencari gara-gara dengan adik atau kakak kita. Tentu saja, hal ini sering berakhir dengan saling teriak-teriak atau justru salah satunya menangis karena bercanda yang sudah kelewatan, membuat suasana rumah menjadi lebih ramai seperti semarak Agustusan

Lantas, kira-kira bagaimana ya, dengan seseorang yang menjadi anak tunggal? Kira-kira apa yang bakal dia rasakan? Katanya sih, dia dikenal sebagai pribadi yang manja, egois, dan banyak mengeluh. Ya, mungkin itu memang bukanlah sesuatu yang salah, sebab bisa jadi memang seperti itulah kehidupan masa kecilnya.

Namun, seiring dia bertumbuh dewasa, ia pun sering dipercaya sebagai sosok yang lebih dewasa.

Dilansir dari pijar psikologi , berikut adalah beberapa hasil studi empiris yang membuktikan fakta bertentangan dengan anggapan-anggapan yang banyak dilekatkan pada anak tunggal.

1. Anak Tunggal Sering Dianggap Egois

Menurut sebuah studi yang melibatkan 2.511 anak tunggal usia remaja di Belanda menyebutkan bahwa anak tunggal tidak menunjukkan ketidakbahagiaan, krisis harga diri atau permasalahan sosial lainnya. Walaupun, menurut penelitian di Tiongkok menyebutkan bahwa anak tunggal diketahui memiliki kesesuaian (agreeableness) yang rendah dan dianggap sebagai ukuran kemampuan bersosialisasi, empati dan koneksi dengan orang lain. Namun, hal itu tidak selalu berlaku pada semua anak tunggal. Banyak juga anak tunggal yang memiliki kemampuan psikososial yang tidak jauh berbeda dengan kemampuan sosial anak yang memiliki saudara/sibling. Mereka justru memiliki Hal ini menunjukkan bahwa menjadi anak tunggal tidak selamanya membuat mereka egois.

2. Studi Menyebut Anak Tunggal Lebih Kreatif

Berdasarkan sebuah studi di Tiongkok, anak tunggal memiliki tingkat kreativitas yang tinggi. Dalam penelitian yang mengkaji tentang struktur otak anak tunggal, meliputi kognisi (kecerdasan dan kreativitas), kepribadian dan perbedaan struktural anatomi Gray Matter Volume (GMV)-berkaitan dengan munculnya ide-ide baru, imajinasi dan pemikiran “out of the box”. Hal ini bisa jadi karena anak tunggal mendapatkan sumber perhatian, finansial, pengasuhan sepenuhnya dari orang tua, yang akhirnya membuat anak tunggal memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkan dirinya secara maksimal. Anak tunggal diketahui memiliki keinginan kuat akan sesuatu dan cukup ambisius untuk mendapatkannya. Untuk itu, pemikiran, ide dan cara-cara baru kerap muncul pada dirinya agar memperoleh apa yang ia kehendaki.

3. Ikatan Emosi yang Erat dengan Orang Tua

Menjadi satu-satunya anak dalam keluarga membuat anak tunggal dilimpahi kasih sayang, perhatian, materi dan waktu dari kedua orang tua. Perhatian lebih yang diberikan oleh orang tua pada anak tunggal ternyata memiliki dampak positif. Selain menjadi pribadi yang kreatif, menjadi anak tunggal juga berpeluang memiliki ikatan emosi yang dalam dengan orang tua. Anak tunggal juga bisa menjadi anak yang bisa diandalkan oleh orang tua karena kedekatan mereka secara emosi. Bagi anak tunggal yang semasa hidupnya dihabiskan dengan kedua orang tua, mereka cenderung bersikap serius dan bertanggung jawab, serta berhati-hati pada orang tua seperti ketika mereka dalam pengasuhannya.

Anak tunggal lebih banyak menghabiskan waktu kesehariannya bersama orang tua, hal ini menjadi peluang besar bagi anak tunggal untuk membicarakan harapan dan mengungkapkan ide pada orang tua. Studi menyebutkan bahwa kondisi lingkungan keluarga pada anak tunggal (hidup dengan perhatian lebih dari orang tua) berperan dalam perkembangan struktur otak anak.

4. Kecenderungan Memiliki Sifat Posesif

Anak tunggal yang terbiasa sendiri dan tidak biasa berbagi karena tidak adanya saudara kandung, bisa jadi memiliki kecenderungan posesif dalam hal kepemilikan barang-barang dan hubungan. Hal ini tentu saja bisa berdampak baik ataupun buruk. Dalam hal pertemanan, anak tunggal cenderung menganggap sahabat selayaknya saudara kandung. Itu merupakan pertanda yang baik, tetapi apabila anak tunggal mulai memperlihatkan sifat posesif terhadap sahabatnya itu, maka itu merupakan pertanda yang kurang baik. Hal tersebut tentu saja bisa terjadi apabila semasa kecil anak tunggal tidak terbiasa untuk berbagi. Untuk itu, perlu menjadi perhatian bagi orang tua yang memiliki anak tunggal untuk membiasakan berbagi.

5. Anak Tunggal Lebih Memilih untuk Menyendiri

Beberapa orang percaya bahwa anak tunggal tidak memiliki banyak teman karena kemampuan interaksi sosialnya yang kurang baik. Akibatnya, ia lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Disamping itu, anak tunggal juga cenderung memiliki ruang dan waktu yang cukup untuk dirinya sendiri. Mereka yang tumbuh tanpa adanya saudara kandung terbiasa dengan ruang dan keheningan, sehingga mereka membutuhkan keduanya untuk menjaga kewarasan. Namun, tidak jarang ruang, jarak, keheningan serta waktu sendiri ini banyak yang menganggapnya sebagai penolakan. Padahal, anak tunggal membutuhkan semua itu untuk merasa utuh dengan diri sendiri dan memberikan mereka cukup waktu untuk merasakan kesenangan dan kegembiraan dengan caranya.

*** Menjadi anak tunggal bukanlah sesuatu yang buruk dan merugikan, hanya karena tidak memiliki saudara kandung. Hal itu tidak berarti anak tunggal adalah anak yang egois, posesif, manja, kurang mandiri dan tidak bisa bersosialisasi serta berbagi. Semua tergantung pada pribadi masing-masing, dengan pengaruh dari lingkungan tumbuh kembang dan sosialnya. Anggapan kitalah yang menambah stigma pada anak tunggal yang belum tentu benar. Kenali dan pahami kembali bahwa setiap manusia itu unik dan mereka berhak untuk mendapatkan lingkungan sosial yang tidak menghakimi.



Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar