Kamu Harus Tau !! Sifat Manusia Dalam Filosofi Pandawa Lima

Kamu Harus Tau !! Sifat Manusia Dalam Filosofi Pandawa Lima


Pandawa lima – Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sejarah budaya yang menarik. Kisah Pandawa Lima adalah salah satu di antaranya. Cerita Pandawa Lima menceritakan peperangan yang terjadi antara Pandawa Lima dengan Kurawa, yaitu Perang Baratayuda. Dalam kisahnya, Pandawa dan Kurawa yang masih sepupu berperang untuk memperebutkan tahta Hastinapura.

Dalam kisah lain, Perang Baratayuda juga kerap diceritakan sebagai simbol peperangan antara sifat baik dan sifat jahat. Dimana sifat baik diwakili oleh Pandawa Lima dan sifat jahat diwakili oleh Kurawa. Kisah yang terus diceritakan melalui wayang ini juga kerap mencerminkan sifat dasar manusia, yaitu :

1. Yudhistira, Sang Ibu Jari Pandawa Lima
Yudhistira atau Puntadewa merupakan kakak tertua dari Pandawa Lima. Dalam kisahnya, Yudhistira diceritakan memiliki mahkota yang terdapat secarik kertas putih. Kertas ini disebut – sebut sebagai jimat dari kesaktian Yudhistira yang diberi nama Klimo Sodo.

Kabarnya, dalam jimat ini tertulis syahadatain atau dua kalimat syahadat yang berbunyi “Laa ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah”. Hal ini memiliki makna bahwa kalimat syahadat merupakan wujud keyakinan mendalam yang memungkinkan seseorang mampu mengalahkan kejahatan.

Yudhistira juga kerap diibaratkan sebagai ibu jari yang menaungi serta menjadi contoh kesopanan dan sikap menerima dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan adat masyarakat Jawa yang sering menggunakan ibu jari sambil mengatakan “silakan” atau “monggo”.

2. Bima, Sang Jari Telunjuk Pandawa Lima
Selanjutnya, Bima atau Werkudoro digambarkan sebagai anggota Pandawa Lima yang memiliki tubuh tinggi besar seperti raksasa. Bima memiliki wajah yang garang, namun dia selalu menunduk seperti orang yang shalat. Selain itu, saat Bima sedang melakukan sesuatu, maka tidak ada yang bisa mengganggunya.

Dalam kisahnya, hal ini seperti memberi pesan bahwa orang yang sedang shalat tidak bisa diganggu. Nama lain Bima yang kerap disebut Aji Pancanaka juga memiliki arti lima kekuatan. Dalam hal ini, lima kekuatan yang dimaksud adalah 5 waktu shalat wajib yang harus ditunaikan.

Perumpamaan Bima dalam Pandawa Lima adalah seperti jari telunjuk. Jari ini kerap digunakan untuk memerintah sesuatu, sehingga terkesan galak. Namun sifat galak ini digunakan sebagai cara mengingatkan kesalahan yang dilakukan orang lain. Dan seperti jari telunjuk yang lurus, Bima disebutkan memiliki hati yang lurus.

3. Arjuna, Sang Jari Tengah Pandawa Lima
Selanjutnya, ada Arjuna atau Janaka yang senang bertapa. Arjuna digambarkan sebagai laki – laki dengan jiwa yang teguh dan memiliki wajah tampan. Kesenangannya bertapa membuat Arjuna sering berpuasa. Sehingga, Arjuna juga melambangkan kekuatan jiwa dan ketenangan yang dimiliki oleh orang yang berpuasa.

Arjuna sering diibaratkan sebagai jari tengah. Perumpamaan ini diberikan karena Arjuna sering diibaratkan sebagai lelananging jagad atau lelaki dunia. Dimana ia disebutkan merupakan lelaki impian setiap wanita. Sebenarnya, yang membuat Arjuna menjadi lelaki idaman bukanlah ketampanan yang dimiliki. Namun, kemampuannya untuk menyenangkan hati para wanita.

Arjuna sendiri meskipun dikatakan sebagai lelaki yang tampan, penggambaran Arjuna adalah laki – laki yang sering keluar masuk hutan dan memiliki jambang atau brewok yang banyak.

4. Nakula, Sang Jari Manis Pandawa Lima
Nakula adalah kakak dari kembar Nakula dan Sadewa. Nakula digambarkan sebagai ksatria Pandawa yang memiliki sifat rajin dan giat bekerja. Nakula kerap menggunakan pakaian yang bagus dan berwibawa. Di sisi lain, ia juga merupakan orang yang dermawan.

Nakula sering diibaratkan seperti ibadah zakat dan haji. Dimana orang – orang yang memberikan zakat adalah orang yang dermawan. Dan orang yang melaksanakan haji adalah orang yang mampu menjalankannya.

Nakula diibaratkan dengan jari manis karena perawakannya yang tampan. Bahkan dikatakan lebih tampan dari Arjuna. Nakula sendiri memang merupakan lambang ketampanan, keindahan, dan keharmonisan. Karena alasan inilah cincin pernikahan digunakan pada jari manis. Sebagaimana sifat Nakula yang tampan, indah, dan harmonis.

5. Sadewa, Sang Jari Kelingking Pandawa Lima
Anak terakhir dalam Pandawa Lima adalah Sadewa, yang sering diibaratkan sebagai jari kelingking. Secara visual, Sadewa memiliki penampilan yang mirip dengan kakaknya. Rapi dan enak dipandang mata. Sifat Sadewa juga persis sama dengan Nakula.

Karena kemiripan ini, Nakula dan Sadewa digambarkan sebagai ibadah zakat dan haji yang tidak terpisahkan. Dimana dua ibadah ini adalah dua ibadah yang wajib dijalankan oleh orang yang memiliki kemampuan secara harta atau finansial.

Pengibaratan Sadewa sebagai jari kelingking adalah karena jari ini adalah jari terkecil. Sama dengan Sadewa yang merupakan anak paling bungsi. Di sisi lain, Sadewa juga digambarkan sebagai orang yang dapat membawa kestabilan dan kebersihan di suatu tempat. Bahkan sampai ke bagian terkecil sekalipun.

Dalam kisah perwayangan, kemampuan Sadewa dalam membersihkan sesuatu diceritakan saat ia membersihkan Bethari Durga. Berkat kemampuannya membersihkan hingga sela paling kecil, Sadewa mampu membuat Bethari Durga kembali ke wujud awalnya sebagai Dewi Uma.

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar