Apa Yang Salah Dengan 'JANCOK'

Iklan Semua Halaman

Apa Yang Salah Dengan 'JANCOK'

Bukan Siapa-siapa

Sebut saja Blontok pemuda Jawa polos nan lugu cangkruk di sebuah angkringan pinggir jalan. Sambil menunggu wedang yang dia pesan, iseng-iseng nguping pembicaraan orang lain. Sampai akhirnya wajahnya merah padam seperti mau berubah jadi Hulk. Hatinya tidak menerima, ketika ada salah satu pengunjung memakai kata "ASU" dalam candanya (yang sebenarnya adalah bentuk kemesraan dan keakraban pada teman di komunitas itu).

Ada juga Denmas Raden Sukimin yang masih turunan ningrat, seorang guru di sebuah sekolah milik negara. Suatu kali browsing acara pengajian di Youtube. Siapa tahu dapat pencerahan. Tapi di sana malah kecewa ketika tahu ada seorang Kyai mbeling berceramah menggunakan kata "jancuk".


Ngomong soal per-misuh-an, misuh itu ternyata mirip PROPOSAL ..
Jadi gini, harus ada MAKSUD DAN TUJUAN : Kabeh ono alasane... ada akibat pasti ada sebab, jika alasannya misuh karena merendahkan manusia iku jelas gak asyik dan tidak etis, misal : "cina anjing..!" wis cino, di-asu-asu-no....misuh plus rasis... cino iku salahe opo se rek? Apa dibenci hanya karena warna kulitnya beda..kok yo sik usum..
Misuh karena alasan keakraban, kemesraan dengan sahabat atau saudara iku gak masalah dan itu hanya ada di komunitas dan lingkungan tertentu..

Sujiwo Tedjo : "Jancok merupakan simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancok” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu.

Misuh itu harus tau TEMPAT DAN WAKTU : Misuh iku tidak boleh sembarangan, ada tempat dan waktu tersendiri ngerti papan lan empan.. Misalnya gini, pas sholat jumat misuhi khotib karena gak seneng dengan tema khotbahnya: "Wis tau krungu cok..! taek..wis cukup, gak usah kakean cangkem.." ditapok malaikat, lambemu njedir..kapok koen..!

Misuh juga harus tau SASARAN : Siapa yang akan dipisuhi. Pagi-pagi ketemu bosmu , "Ya'opo cok..! kabare apik ta..ojok cengengesan talah.." langsung ae raimu dipancal bosmu..

Yang terakhir misuh juga mikir BIAYA : jika ingin misuh pikiren pisan biayane.. Misale misuhi Kopasus, waah bisa-bisa ndasmu dikepruk karo popor senapan, rahangmu sengkleh, akhire melbu ICU.. jare dokter kudu disambung karo kawat bendrat.. biayane yo lumayan iku... ganok biaya dan gak duwe warisan, akhire utang bank.. Milih bank syariah biar nggak ada riba', ternyata yo podo ae....syariah ndasmu......! Wis ngene ae..percoyo karepmu, gak percoyo modaro..haaahaaaaahhaaa guyon mbloo.


Orang kita (Indonesia) memang lebih pede menggunakan bahasa latin (Yunani) untuk istilah yang dianggap kasar. Orang kita lebih bangga kalau pinter bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Di Indonesia, kayaknya parameter orang yang keren adalah orang yang paham istilah latin atau pinter dan fasih berbahasa Inggris. Sampai-sampai menunjukan kecintaannya pada negerinya dengan tulisan : "I Love Indonesia". Bangga sama bangsanya tapi tidak dengan bahasanya. Kenapa nggak ditulis : "Aku Cinta Indonesia" sih mblo..?

Ngaku saja, sebagian dari kita memakai kutipan berbahasa Inggris atau latin dalam tulisan atau pidato agar terlihat keren, cerdas dan berwawasan luas : "..karena kerja terlalu banyak pressure, maka reward harusnya lebih besar..kita harus memahaminya secara komprehensif persoalan itu..karena dikotomi dalam dunia kerja bla bla bla bla bla ndasmu sempal.."

Kalau saya sering memakai istilah bahasa Jawa, bukan berarti saya Jawasentris. Saya cuman berekspresi sebagai orang Jawa. Saya lahir, hidup dan bangga jadi orang Jawa. Saran saya, cobalah untuk meluaskan hati dan pikiran. Tak perlu berlebihan menyikapi jika anda menemukan sesuatu yang berseberangan dengan ideologi dan cara berpikir anda. Kebenaran adalah kesepakatan. Di lingkungan anda mungkin itu nggak sopan tapi di lingkungan lain sah-sah saja Mbloo.

Read more: https://www.kenthus.web.id/2016/11/jancuk-dan-asu-itu-tidak-saru.html